Kisah Sebuah Negeri Muslim Afrika

April 10, 2012 Tinggalkan Komentar

Suatu hari di sela-sela waktu kuliah, saya menyempatkan diri untuk mengobrol dengan seorang mahasiswa dari negeri Somalia. Ngalor ngidul kita ngobrol, dari kesan mereka kuliah di UIN Jakarta hingga obrolan mengenai negeri mereka. Ada hal yang menarik yang ingin saya catat -walaupun saya tidak tahu pastinya- bahwa menurut mereka, di sana (Somalia) menghafal Al Quran merupakan salah satu prasyarat untuk masuk ke sekolah dasar. Kagum serta kaget, itu kesan saya. Bagaimana tidak, Somalia merupakan negeri dengan politik yang tak urung stabil, bahkan tidak memiliki pemerintahan resmi sejak tumbangnya rezim Siad Barre pda tahun 1991. Mereka masih sempet-sempetnya menghafal Al Quran. Obrolan ini membuat saya semakin penasaran dengan negeri Somalia.

Selama ini yang saya ketahui, Somalia dilanda krisis yang tak berkesudahan. Kelaparan, kekeringan, maupun krisis sosial politik yang salah satu penyebabnya karena talik ulurnya perebutan kekuasaan di sana. Akhirnya, rakyatnya pun menjadi korban.

Somalia, merupakan sebuah negeri dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Negeri yang berada di Tanduk Afrika itu memiliki garis pantai terpanjang di Afrika sejauh 2.720 km. Hestiana, direktur Hadlarah Institute mencatat bahwa negeri itu memiliki kekayaan alam yang melimpah dengan uranium, gas alam, dan minyak bumi. Bahkan, cadangan minyak dari dua perusahaan minyak, Afrika Oil dan Range Resources (perusahaan memiliki lisensi eksplorasi di Somalia) hingga 10 milliar barel. Selain itu, empat perusahan minyak Amerika (Cocono, Chevron, Amoco, dan Philips) menguasai pengeboran di dua per tiga wilayah Somalia. (Haluan Kepri, 21/11/2011).

Di banding dengan kekayaan alam yang melimpah itu, penduduk Somalia tak seberapa jumlahnya. Penduduk Somalia tidaklah lebih banyak dari penduduk DKI Jakarta. Penduduk Somalia hanya sekitar 9 jutaan saja (en.wikipedia.org/wiki/somalia), lebih kecil dari jumlah penduduk DKI yang berkisar sekitar 10 jutaan di malam hari (kependudukancapil.go.id).
Seperti halnya di negeri kita -Indonesia-, kekayaan alam yang melimpah itu tidak serta merta membuat rakyat Somalia sejahtera. Bahkan sebaliknya, menurut The Richest, Somalia merupakan salah satu negara termiskin di dunia (therichest.org). Ironis memang. Kondisi di Somalia ini seperti halnya seperti kondisi di negeri-negeri muslim yang lain, kaya namun pra sejahtera. Rakyat Somalia masih dilanda kelaparan.

Kelaparan di Somalia pada tahun 2011 merupakan kasus kelaparan terparah yang pernah terjadi di Somalia. Bulan agustus 2011 saja, sekitar 29.000 bayi mati karena kelaparan dalam tiga bulan (kompas.com, 2/8/2011) dan 3,5 juta orang lainnya menderita kelaparan. Beberapa bulan kemudian, September 2011 PBB memberitakan bahwa 750.000 penduduk Somalia terancam mati akibat kelaparan (unmultimedia.org, 5/9/2011). Kelaparan tak mengenal usia, orang dewasa, anak-anak, bahkan balita pun dapat menjadi korban.

Februari 2012, PBB melansir bahwa jumlah penduduk yang membutuhkan bantuan kemanusian sekitar 2,3 juta, 325.000 anak mengalami malnutrisi, 20 persen rumah tangga mengalami kekurangan pangan ekstrim, malnutrisi akut melebihi 30 persen, angka kematian melewati dua orang per hari per 10.000 orang, dan lebih dari 293.000 pengungsi Somalia meninggalkan konflik dan kelaparan ke Negara tetangga seperti Kenya, Ethipia, Djibouti, dan Yaman sejaka Januari tahun lalu. (unic-jakarta.org, 3/2/2012). Jumlah tersebut sebenarnya menurun dari jumlah tahun sebelumnya. Namun, tetap saja jumlah jutaan orang yang membutuhkan bantuan tidak bisa dianggap sedikit.

Kasus kelaparan Somalia ini bisa di lacak sejak 1974-75 dimana kekeringan yang parah menyebabkan terjadinya kelaparan (bbc.co.uk, Somalia Profile). Ketidakstabilan politik di Somalia memperparah keadaan hingga Somalia belum mampu mengatasi kelaparan hingga saat ini. Sebelum itu, Somalia merupakan negeri bekas jajahan Inggris dan Italia, kemudian negeri tersebut dipimpin oleh rezim tirani sosialis, Siad Barre dari 1970 hingga digulingkan tahun 1991. Setelah konflik berkepanjangan, tahun 2006 Somalia sempat mengalami stabilitas ketika Dewan Mahkamah Islam (UIC) berhasil menumbangkan gembong perang dukungan AS sehingga berhasil menerapkan sebagian hukum syariah di negeri itu (kompas, 31/1/2009). Namun, AS tak senang dengan hal itu, digunakanlah ethiopia untuk menyerang negara itu demi menghapus Dewan Mahkamah Islam Tertinggi (SICC) (haluankepri.com, 21/11/2011). Hingga saat ini Somalia tidak memiliki pemerintahan yang efektif dikarenakan intervensi negara-negara asing (Pasukan AS, PBB, dan Uni Afrika) yang semakin memperburuk krisis Somalia (eramuslim.com, 21/2/2012).

Kelaparan yang terjadi di Somalia bukan hanya terjadi akibat kekeringan yang sering melanda di negeri tersebut, namun juga karena krisis yang berkepanjangan yang menjadi faktor dominan tak terurusnya negeri itu. Rakyat Somalia harus lepas dari intervensi Barat dan Uni Afrika, karena bila terus di intervensi oleh Negara-negara Barat maupun Uni Afrika maka sulit bagi rakyat Somalia untuk berdamai, sulit untuk menegahi konfrontasi horizontal antara pemerintahan yang didukung barat dengan pemerintahan yang di dukung rakyat di mana rakyat Somalia menginginkan syariah Islam, berlawanan dengan dukungan Barat.
Di sisi lain, kepedulian negeri-negeri Muslim, seperti OIC (Organization of Islamic Cooperation) amat diperlukan untuk membantu jalannya proses perdamaian di Somalia dengan cara Islam. Lepas dari penjajahan (intervensi) asing dan reunifikasi negeri-negeri muslim bisa menjadi solusi bagi stabilitas politik negeri tersebut. Kita berharap semoga keadaan di negeri itu segera bangkit dari keterpurukan.

Namun berharap saja tidak cukup, ada jutaan rakyat Somalia yang terancam akibat krisis tersebut. Karena itu, mereka membutuhkan bantuan kita. Apa lagi rasul pernah bilang bahwa semua muslim itu bersaudara sehingga sulit kiranya bila kita tidak memberi mereka bantuan. Memberikan bantuan langsung mungkin sulit bagi kita, namun kita dapat memberikan bantuan berupa sumbangan melalui lembaga filantropi yang ada.

Doa adalah senjata kaum muslimin. Dari negeri nan jauh di Asia Tenggara ini, bila tak sanggup membantu secara langsung, maka doakanlah dan bantulah saudara kita disana sesuai dengan kemampuan kita. InsyaAllah bermanfaat. Wallahu a’lam bis shawab.

Menggali Kembali Makna Kehidupan

April 10, 2012 Tinggalkan Komentar
Tulisan Desember 2009 
 
Tahun  1430 Hijriah baru saja telah kita lewati. Banyak hal yang telah kita jalani di tahun itu, baik hal yang menyenangkan ataupun hal-hal yang menyedihkan hati kita. Di tahun lalu, kita pernah melihat, atau bahkan merasakan banyaknya musibah yang terjadi, dimulai dari gempa di tasikmalaya sampai gempa di sumatra. Bahkan gempa yang terjadi di sumatera itu, sempat ‘menggoyang’ kampus kita yang tercinta. Dan di akhir tahun-sampai saat ini, sedang berlangsung  drama kehidupan yang menceritakan  keadilan yang ada di negeri kita. Kita seperti sedang melihat ‘pertunjukan besar’ yang memperlihatkan ketidakadilan antara si kaya dan si miskin. Selain itu pula, setiap individu pastilah memiliki kisah hidupnya masing-masing.

Keberkahan, keburukan maupun musibah yang kita lihat dan rasakan sejatinya tak lepas dari apa yang telah kita lakukan, Allah Swt berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”(QS. Ar-Rum: 41).

Pastilah kita bertanya, apa yang telah kita lakukan sehingga kerusakan, ketidakadilan, kedzoliman ada di mana-mana? Itulah yang harus kita pertanyakan pada diri kita masing-masing. Kerusakan bukan saja karena kita merusak alam ini, namun boleh jadi karena kita telah meninggalkan Allah sehingga kita diingatkan untuk kembali pada-Nya. Wallahu alam.

Sejenak, Mari kita mengingat kembali masa lalu kita sejak lahir hingga saat ini. Begitu banyak hal yang telah kita kerjakan, banyak nama yang telah kita kenal, banyak tempat yang kita singgahi, bahkan banyak kenangan yang sulit tuk dilupakan. Namun, apa arti semua itu? apa arti hidup kita selama ini? Dan adakah tujuan hidup yang harus kita capai?

Mengetahui asal muasal kita adalah kunci untuk memahaminya, lalu munculah pertanyaan, dari manakah kita? Tentu saja kita akan menjawab, kita berasal dari Allah Swt. Setelah kita mengetahui dari mana kita berasal, akhirnya pertanyaan sebelumnya (tujuan hidup kita) kita jawab. Jadi, untuk apa kita disini? Tentu saja Sang Pencipta memberikan jawaban-Nya pada kita, Allah Swt berfirman:

“Tidak Kuciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”(Qs. Az-Zariyat:56).

Jadi, saudaraku, hidup kita sejatinya adalah untuk beribadah pada-Nya, Allah Swt. Namun, seringkali kita lalai bahkan lupa tujuan hidup kita ini sehingga tidak jarang kita melenceng dari apa yang seharusnya kita kerjakan. Namun, boleh jadi kita tidak tahu cara agar tujuan hidup kita terlaksana dengan sukses. Pernahkah  kita  bertanya, bagaimana caranya agar ‘misi suci hidup’ kita ini berhasil? Tentu saja, untuk mensukseskan ‘misi suci ini’, kita memerlukan pedoman. Ya, pedoman, sebuah petunjuk bagaimana cara, dan apa yang semestinya kita lakukan. Jadi, apakah pedoman kita? Jangan ragu untuk menjawab, tentu saja, Al-Quran adalah jawabannya, karena Allah Swt berfirman:

“ Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”(Qs. An-Nahl:89). 

Melalui Rasul-Nya, Al Quran disampaikan, diajarkan, dicontohkan, dan dihidupkan dalam tatanan individu, masyarakat, maupun negara. Pantaslah jika Rasulullah Saw di sebut sebagai Al-Quran berjalan karena itu, beliaulah orang yang pantas sebagai panutan kita, sebagaimana di jelaskan dalam Al-Quran:

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yan mengharap (rahmat) Allah dab (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah” (Qs. Al-Ahzab: 21).

Saudaraku jadikanlah Al-Quran dan As-Sunah sebagai pedoman hidup kita, agar kita mendapat ketenangan, ketentraman, kebahagian, dan rahmat dari Allah Swt bukan saja untuk diri kita, tapi juga untuk masyarakat maupun negara. Jika dalam ranah individu saja Islam telah mampu memberikan motivasi, inspirasi, inovasi , ketenangan, kebahagian, ketentraman, serta kebahagian, maka tentulah Islam pun bila dijadikan pedoman bagi masyarakat maupun negara pastilah juga memberikan keadilan, kemakmuran, dan kesejahteran bagi semuanya, karenanya tidaklah heran jika Islam adalah agama Rahmat bagi semesta (Rahmatan lil alamin).
Allah Swt berfirman: 

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan” (Qs. Al-A’raf: 96).

Allah Swt juga berfirman: 

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.(Qs.An-Nur: 55).

Kita pun berharap dan berusaha agar kita termasuk orang-orang yang beriman sehingga janji Allah Swt dapat kita rasakan. Dan saat inilah momen yang tepat bagi kita, dimana 14 abad yang lalu terjadi momen yang telah mengubah tatanan dunia, dari zaman kegelapan jahiliyah, dari kefasikan, tidak beradab, kemaksiatan yang merajalela, dan hawa nafsu sebagai pedoman berubah total menjadi zaman terang benerang, dimana keimanan dan ketaqwaan merupakan karakteristik dari penduduk negerinya. 

Hijrah, yang dijelaskan Ibn Rajab al hambali dalam fath al-bari, sebagai menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai, dan mendapatkan kebaikan, adalah sebuah titik refleksi bagi kita untuk mengingat kembali ‘misi hidup’ kita. Jangan sampai waktu kita yang sesaat ini terbuang oleh hal-hal yang tidak berharga dan justru menjauhkan dari tujuan asli hidup kita. Karena itu saudaraku, bagi seorang muslim, kehidupan adalah anugrah sekaligus amanah dari Allah Swt dan  semuanya yang ada akan kembali pada-Nya. Wallahu Alam.

Masa Depan di Tangan Pemuda

April 10, 2012 Tinggalkan Komentar

Soekarno pernah bilang bahwa “Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia”. Al Banna pernah juga berkata “Sejak dulu hingga sekarang, pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap pemikiran, pemuda adalah pengibar panji-panjinya”.

Tokoh-tokoh lain pun ketika berbicara tentang pemuda, maka mereka seperti membicarakan harapan, impian, dan masa depan. Bahkan, para Nabi pun di utus dari kalangan pemuda, ibnu abbas berkata “Tak ada seorang nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia dipilih di kalangan pemuda sahaja (yakni 30-40 tahun). Begitu pula tidak seorang ‘Alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda”. Kemudian Ibnu Abbas membaca firman Allah swt: “Mereka berkata: Kami dengan ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”(TMQ Al Anbiyaa:60, Tafsir Ibnu Katsir III/183).

Bukan hanya para Nabi, namun juga dari kalangan sahabat, tabiin, maupun pemimpin-pemimpin dunia yang berhasil banyak dari kalangan pemuda. Jepang misalnya, ternyata perubahan menjadi jepang modern saat ini dipimpin oleh para pemuda, yaitu pada masa restorasi meiji.
Ada lagi kisah heroik Sultan Muhammad 2 atau Muhammad Al Fatih, beliau merupakan Sultan di zaman khilafah ustmani yang berhasil membebaskan konstantinopel dari tangan byzantium pada tahun 1453. Yang waktu itu, usianya baru mencapai 21 tahun, padahal konstantinopel dikenal sebagai kota yang sulit ditaklukan pada masa itu.

Dan di negeri sendiri, sejarah memperlihatkan bahwa pemuda berpengaruh besar dalam memerdekaan Indonesia. Dari mulai terbentuknya SDI, budiutomo, ataupun sumpah pemuda. Bahkan saat-saat kemerdekaan Indonesia sendiri pada waktu itu di tekan/dituntut oleh para pemuda, padahal pada waktu itu generasi tua menunggu hadiah kemerdekaan dari jepang, namun para pemudalah yang menuntut agar kemerdekaan indonesia segera diploklamirkan. Jadilah 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan.
Sejarah pun terus berjalan, setelah merdeka indonesia masih terkungkung dalam kemiskinan dan penjajahan model baru. Para pemudapun berperan dalam melakukan perubahan di negeri ini. Tumbangnya soekarno akibat dari diterapkannya demokrasi terpimpin dan nasakom pun dipicu oleh para pemuda. Akhirnya indonesia dipimpin oleh rezim orde baru selama 32 tahun hingga rezim itu tumbang pada mei1998 dan digantikan dengan era reformasi. Lagi-lagi pemicunya para pemuda. Kini, orde reformasi telah berjalan sekitar 13 tahun lamanya. Namun, apakah cita-cita bangsa indonesia menjadi bangsa sejahtera sudah terwujud? juga seperti apakah keadaan para pemuda generasi penerus bangsa pada saat ini?

Pemuda dan Perubahan
Kondisi pemuda ataupun mahasiswa saat ini merupakan cerminan bagi negeri ini kedepan. Beberapa survey dari lsm-lsm bisa jdi pelajaran bagi kita akan kondisi pemuda pada saat ini. Survey KPA tahun 2010 menyimpulkan terhadap 4500 remaja di 12 kota besar seluruh Indonesia mendapatkan hasil mencengangkan. Sebanyak 62,7 persen remaja Indonesia ternyata sudah pernah melakukan ML, 97 persen remaja pernah mengakses pornografi, 21 persen pernah aborsi dan 93 persen pernah berciuman. Belum lagi,propaganda kehidupan hedonis yang disebarkan oleh media-media negeri kita menambah degradasi moral keseluruh penjuru negeri ini.

Begitu menyedihkan ditengah kondisi ekonomi politik yang sedang semrawut saat ini masih saja ditambah dengan generasi mudanya yang justru rendah moralnya. Ibn Khaldun dalam Muqaddimahnya menjelaskan bahwa di antara yang merusak sebuah peradaban adalah tenggelamnya masyarakat dalam kemewahan dan memperturutkan hawa nafsunya. Hmm.. Apakah generasi seperti ini yang akan mewariskan peradaban nanti? jawabannya ada pada kita semua, para pemuda.

Nah, harapan untuk memperbaiki itu ada ditangan kita, para pemuda. karena di hari esoklah kita akan memimpin negeri ini. Untuk melakukan perubahan, kita harus memperhatikan masalah apa yang harus dirubah. Apakah masalah cabang atau justru masalah fundamental yang sistemik sedang melanda negeri ini. Coba kita perhatikan, Indonesia merupakan negara dengan kekayaan sumber daya alam sangat kaya raya. Namun, sumber daya alam yang kaya itu justru dikuasai oleh asing. Freeport misalnya, 97 % hasil dari emas di papua dijarah keluar negeri, maka tak heran jika rakyat papua meminta haknya untuk mendapatkan . Padahal privatisasi SDA haram hukumnya dalam Islam, Rasul bersabda : “Umat Islam berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (Hr. Ahmad)

Belum lagi banyaknya kasus korupsi, ketidakadilan ekonomi, mahalnya biaya pendidikan, separatisme dan lain sebagainya yang merupakan buah dari sistem kapitalisme. Indonesia bukan saja membutuhkan figur-figur yang shaleh dan shalehah untuk memimpin negeri ini, namun juga membutuhkan perubahan mendasar, yakni perubahan sistem agar cita-cita untuk menjadi bangsa maju, adil, dan sejahtera terwujud.

Sosialisme Komunisme telah terbukti gagal dalam mensejahterkan rakyat. Pun, kapitalisme saat ini sedang dalam masa-masa menuju kehancuran. Negara-negara eropa, seperti yunani, prancis, itali sedang dilanda krisis bahkan di US sendiri kapitalisme mulai disadari oleh rakyatnya sebagai biang kerusakan ekonomi amerika, demo besar-besaran di wallstreet membuktikan hal itu.

Sejarah mencatat, bahwa Islam pernah menjadi pemimpin dan mensejahterakan dunia. Dalam hal ini, Will Durant jelas mengatakan:
“Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durant – The Story of Civilization)

Indonesia juga pernah mencatat sejarah indah dengan islam, karena ternyata unsur penyatu nusantara bukanlah majapahit tetapi Islam, terbukti dengan digunakannya bahasa melayu, Al Attas dalam buku Historical Fact and Fictions menjelaskan “The spread of the new and vibrant Malay language and literature as a vehicle of Islam and knowledge presently used by more than two hundred million people in the Malay Archipelago is one of the most important factors in the creation of nationhood, the other factor being the religion of Islam itself.”

Karena itu pula, harapan hanya pada Islam. Islam mengatur seperangkat kehidupan manusia mulai dari ekonomi, politik, sosial maupun dalam ranah individu. Islam juga bukan agama yang memaksa pemeluk lain untuk masuk kedalam Islam, namun justru memberikan jaminan kepada setiap muslim dan non muslim, Ketika pasukan Muslim dibawah pimpinan Abu Ubaidah mencapai lembah Jordan, pendukuk Kristen setempat menulis surat kepadanya. Isinya “kami lebih bersimpati kepada suadara daripada orang-orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami… Pemerintah Islam lebih adil daripada pemerintah Byzantium”.

Begitu pula janji Allah pada orang-orang yang beriman :
“Dan Allâh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamdan yang mengerjakan amal-amal saleh
bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi,sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (Qs an-Nûr/24:55)
Begitulah Islam, sebuah sistem kehidupan yang rahmatan lil alamin, sangat cocok menjadi solusi bagi bangsa dan negara kita ini. So, negeri dan dunia ini bukan hanya membutuhkan para pemuda/i yang shaleh dan shalehah namun juga membutuhkan sistem kehidupan yang rahmatan lil alamin. Mari kita mewujudkan visi membangun peradaban dengan Islam.

Categories: Islam, My Journal Tag:, ,

Slide Dewesternisasi dan Islamisasi Ilmu

April 10, 2012 Tinggalkan Komentar

Slide Dewesternisasi dan Islamisasi Ilmu @Fak Syariah dan Hukum

liat disni : 

https://docs.google.com/presentation/d/1a7t7ktHO4MqlaoK1z_j0pqXqm-Lx8Ep9_bO-1Gm4T94/edit

IBF 2012 : Nyari Buku, Nyari Ilmu, Nyari Guru

April 10, 2012 Tinggalkan Komentar

Islamic Book Fair mungkin salah satu event tahunan yang paling ditunggu-tunggu bagi kaum muslimin Indonesia, khususnya bagi para pecinta buku. IBF 2012 merupakan IBF yang ke-4 yang saya kunjungi sejak saya kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, akhir tahun 2008 silam.

Alhamdulillah, di IBF 2012 kali ini saya masih bisa menghadiri berbagai acara yang diselenggarakan oleh Panitia IBF. Salah satunya, bedah buku Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud yang diselenggarakan di hari kedua Islamic Book Fair. Beserta teman-teman dari Moeslim Scientist Community UIN Jakarta, selain berniat untuk memborong buku di IBF, kami pun memang berniat menghadiri acara bedah buku beliau tersebut, yakni “Rihlah Ilmiah : Dari Neomodernisme ke Islamisasi Ilmu Kontemporer”.

Bedah buku tersebut cukup menarik, karena selain menghadirkan Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, dihadiri juga Prof. Dr. Didin Hafidudin, Dr. Adian Husaini dan Dr. Nirwan Syafrin. Mereka semua, bagi saya merupakan orang-orang yang kompeten dalam bidang pemikiran dan pendidikan Islam. Selain membahas isi buku Prof. Wan Daud, diskusi tersebut juga membahas keadaan pendidikan dan pemikiran Islam yang sedang terjadi di Indonesia.

Selesai acara, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan meminta tanda tangan beliau untuk buku-buku beliau yang saya miliki. Tiga tanda tangan pun saya dapati. Setelah itu, kami pun saya meminta berfoto bersama. Sebelum berfoto bersama, beliau berpesan agar kami belajar yang benar di UIN Syarif Hidayatullah. Serentak kami pun menjawab “Ya, Prof.” Semoga pesan tersebut bisa kami jalankan dengan baik.

Di acara ini buku beliau tersebut didiskon 50 %, sehingga kami beruntung selain bertemu langsung dengan penulisnya, bukunya pun dijual dengan begitu murah. Sayang sekali bila kesempatan ini dilewatkan begitu saja.

Banyak sekali buku-buku yang ada di IBF, baik buku-buku keislaman maupun buku-buku umum. Bila kita jeli memilih, kita bisa mendapatkan buku-buku berkualitas tinggi dengan harga yang begitu murah. Alhamdulillah, saya berhasil mendapatkan buku yang merupakan disertasi doktor, yang berjudul “Manusia dalam Pandangan Al Ghazali” yang dijual hanya dengan harga 5.000 rupiah. Wow! Begitu murahnya. Ada juga buku mengenai ushuludin yang berbobot seperti buku “Benarkah Kontradiksi antara Ayat dan Hadist?” dijual hanya dengan harga 4.000 rupiah. Murah sekali bukan? Selain itu pula, masih banyak buku-buku berkualitas tinggi lain yang dijual begitu murah. Tanpa berpikir panjang, saya pun membeli buku-buku murah dan berkualitas tinggi tersebut.

Selain bisa mendapatkan buku murah berkualitas, acara-acara di IBF pun dapat menjadi ladang untuk mencari Ilmu. Berbagai seminar, bedah buku, talkshow maupun pelatihan ada di event ini. IBF pun tidak terbatas untuk kalangan tertentu. Anak-anak, remaja, mahasiswa, maupun masyarakat umum dapat menikmati event ini.

IBF bagi saya bukan hanya untuk mencari buku-buku, namun juga ladang untuk mencari ilmu dan tempat untuk bertemu para guru yang selama ini hanya bisa dilihat dalam tulisan maupun media lainnya. Bagi yang menyukai pemikiran, kapan lagi bertemu dengan Prof. Wan Daud? Bagi yang gemar politik, kapan lagi bertemu dengan Ismail Yusanto? Bagi pecinta novel, kapan lagi bisa bertemu dengan Habiburrahman El Shirazy? Jadi, kapan lagi dapat Ilmu, dapat buku, dan bertemu guru-guru kita?

Bersyukur, umat Islam Indonesia memiliki event besar seperti ini. Sehingga, setiap elemen masyarakat dapat berbagi dan menimba ilmu dengan mudah dan murah, serta dapat mempererat silaturrahim antara umat Islam Indonesia. Semoga. Aamiin.

Ngoding bareng 800 orang di Nokia Developer Day

Februari 6, 2012 Tinggalkan Komentar

Gimana rasanya ngoding bareng 800 orang dalam satu ruangan semalaman? Kalo biasanya saya ngoding sendirian di dalem kamer, pusing sendiri, laper sendiri, sampe ngantuk sendiri. Nah, kemaren hari sabtu – minggu sekitar 800 orang ngoding bareng di Graha Siliwangi, Bandung. Rasanya? Rammee.. biasanya kalo malem sedikit2 ngantuk pas ngoding, kalo bareng2 gini, semangat ngodingnya.. :-D

Nama acara itu Amazing Nokia Developer Days 24 Hours. Dari namanya saja kita sudah tahu bahwa acara tersebut diselenggarakan oleh Nokia. Nokia memang sedang gencar-gencarnya mempromosikan produk terbaru mereka, Lumia. Produk tersebut merupakan smartphone Nokia yang ditanam OS Windows phone.

Categories: My Journal, Ngomong IT

Notes From Cibitung Wetan (#1)

Oktober 28, 2011 Tinggalkan Komentar

Bismillahirrahmanirrahim,

This article should I write in August. But, because of my activities and laziness. So i forget and have no time to write it.. sorry yo.. So Now, I will tell to U about a Village. Namely, Cibitung Wetan. I will make this article into several sections. This section is just an introduction. The next section I will explain my little story with people in this village.. from there i can take a lesson for especially, my better life .. :-)

So, Do U Know Cibitung Wetan? :-)

Maybe, people who live in bekasi know the name cibitung village but its not a region @ bekasi. Its another Cibitung.. hehe.. Cibitung Wetan at Bogor, West Java.

Geographically, the village is located in Kec Pamijahan, Kab. Bogor, West Java. Not far from Mount Salak. cool enought and have beautiful scenery .. of course more beautiful than jakarta .. hehehe

One month I was here with my friends to carry out the activities of People Work Experience (KKN). Many experiences and lesson learned there. Especially, I learned how to live with the village people and also how we practice our knowledge for the people.

The people there friendly, courteous, and educated than (that I noticed) with the surrounding villages or in the village of my father. This village school has a school of kindergarten through high school. there are about 5 elementary school, a junior school, and a vocational school. Some schools i have taught, mainly at vocational school (SMK Muh 5 Pamijahan).. there i’ve taught IT. :-)

In the field of religious education, people in this village is also better (I’ve noticed) from the surrounding villages, or perhaps the average village in general. Every day in this village there are islamic studies (pengajian), especially women Islamic studies group (more than 7 majlis taklim possible) and there are Islamic Studies groups for men. Good enough for a village in times like this.

That an overview about cibitung wetan that I have lived there .. Next I will tell you a little story I was there .. :-)

Sorry for my bad english.. (masih belajar.. hehe)

Foto-foto Worshop Java @SMK 5 Muh Pamijahan

Intro Java Workshop @SMK Muh 5 Pamijahan

Intro Java Workshop @SMK 5 Muh Pamijahan

Categories: KKN Tag:,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.